<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KONGTAI</title>
	<atom:link href="http://blog.kongtai.org/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.kongtai.org</link>
	<description>Kongkow Santai Blog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 12 Jun 2010 12:11:46 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Belajar Computational Theory Untuk Pertama Kali</title>
		<link>http://blog.kongtai.org/2010/06/belajar-computational-theory-untuk-pertama-kali/</link>
		<comments>http://blog.kongtai.org/2010/06/belajar-computational-theory-untuk-pertama-kali/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 06:03:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komputer]]></category>
		<category><![CDATA[computational theory]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.kongtai.org/2010/06/belajar-computational-theory-untuk-pertama-kali/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini pernah saya kirim ke satu milis. Tapi untuk tujuan diskusi saya pikir tidaklah masalah kalau dituliskan sekali lagi di blog ini. I) DISKUSI PERTAMA Ada yang bertanya, apakah yang perlu dipelajari kalau mau belajar computational theory untuk pertama kali. Jawaban saya adalah: Ada baiknya bapak mempelajari hal-hal berikut ini: 1. Data Definition * [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini pernah saya kirim ke satu milis. Tapi untuk tujuan diskusi saya pikir tidaklah masalah kalau dituliskan sekali lagi di blog ini.</p>
<p>I) DISKUSI PERTAMA<br />
Ada yang bertanya, apakah yang perlu dipelajari kalau mau belajar computational theory untuk pertama kali.<br />
Jawaban saya adalah:<br />
Ada baiknya bapak mempelajari hal-hal berikut ini:<br />
1. Data Definition<br />
* Self-referential Data Definition<br />
* Mutually-referential Data Defition<br />
* Function dan Variable Definition<br />
* Symbolic Information<br />
* Simple dan Compound Data<br />
* Lambda<br />
2. Recursion<br />
* Structured Recursion<br />
* Generative Recursion<br />
3. Abstration<br />
4. Accumulation of Knowledge<br />
5. Assignment</p>
<p><span id="more-33"></span>Dan untuk bahasanya saya sarankan Scheme atau Haskell atau ML atau<br />
Logo. Keempat bahasa itu sangat bagus untuk mempelajari computation<br />
theory. Setelah itu bapak bisa menggunakan bahasa yang jauh lebih<br />
practical dan *useful* seperti Python.</p>
<p>Untuk mempelajari tentang computation theory, bapak bisa bergabung di<br />
lambda the ultimate www.lambda-the-ultimate.org.</p>
<p>II DISKUSI KEDUA<br />
Kemudian ada yang komplain bahwa topik-topik tersebut terlalu advance, dan kemudian jawaban saya adalah:<br />
Memang topic-topic tersebut kalau kita sepandang melihat memang<br />
terlihat sangatlah advance. Begitu juga kalau kita melihat topic-topic<br />
dalam bidang matematika seperti Eucledian Geometry, Number Infinities<br />
proof, menemukan Maxima dan Minima dalam Calculus, Cartesian Geometry,<br />
dan topic-topic lainnya.</p>
<p>Tetapi tentu saja ada buku-buku level introduction yang menjelaskan<br />
topic-topic tersebut dengan cara yang menawan hati. Lihatlah bagaimana<br />
Mathematical Universe memperkenalkan konsep Circle dalam Eucledian<br />
Geometry dengan begitu gampang dicerna.</p>
<p>Nah, untuk computational theory, ada juga buku seperti itu. Kita bisa<br />
menemukan salah satunya dalam How to Design<br />
Program(http://en.wikipedia.org/wiki/How_to_Design_Programs) yang mana<br />
juga bukunya bisa diakses secara online(http://www.htdp.org/).</p>
<p>Bahkan, satu dan dua bab pertama menjelaskan tentang computational<br />
seperti sedang menjelaskan kepada anak kecil. Tetapi memang benar,<br />
dalam buku tersebut ada bagian yang sungguh teramat sangat sulit,<br />
yaitu bagian Generative Recursion.</p>
<p>Intinya, selamat membaca.</p>
<p>III DISKUSI KETIGA<br />
Kemudian ada yang komplain bahwa kalau mau mempelajari sesuatu harus dari awal mula atau pengenalan, dan inilah jawaban saya:<br />
Bentar pak XXX, tentu saja orang yang baru belajar matematika tidak<br />
langsung belajar calculus. Tetapi, tentu saja dalam hal ini merupakan<br />
perkecualian. Saya mengatakan demikian karena kita semua paling tidak sudah<br />
pernah mempelajari sedikit tentang matematika pada waktu kita sekolah<br />
menengah dahulu. Oleh karena itulah saya bisa mengatakan bahwa hal-hal<br />
advance di dalam dunia matematika juga sangat mengasikkan untuk dibahas dan<br />
mudah untuk dipahami bilamana ada buku yang memungkinkan. Dan disitulah<br />
Mathematical Universe berperan, sebagaimana yang saya katakan dulu.</p>
<p>Mungkin bapak ada keinginan untuk membaca buku tersebut. Bila iya, bapak<br />
bisa mendatangi perpustakaan Departemen Pendidikan di daerah<br />
Sudirman(samping Ratu Plaza). Perpustakaan tersebut dahulu mendapatkan<br />
banyak bukunya dari perpustakaan The British Council Indonesia Jakarta. Saya<br />
yakin, setelah membaca buku tersebut, bapak akan setuju dengan saya dalam<br />
hal ini.</p>
<p>Untuk membaca HTDP, saya sendiri juga membuat sebuah asumsi yang sama dengan<br />
pendapat yang sudah saya utarakan di muka, yaitu bahwa kita pernah<br />
mempelajari sedikit matematika pada waktu kita sekolah menengah dahulu. Saya<br />
berkeyakinan bahwa dengan sedikit pengetahuan akan matematika, akan<br />
memungkinkan kita untuk membaca HTDP.</p>
<p>Mengenai bahasa yang leibh useful dan practical daripada Python, mohon maaf<br />
sebelumnya mungkin penjelasan saya kurang memuaskan dikarenakan keterbatasan<br />
pengetahuan saya akan computational theory terbatas pada literature.</p>
<p>Secara sederhana, saya sendiri pada dasarnya adalah seorang pedagang(saya<br />
juga memberikan jasa pelayanan teknikal support). Computational Theory bagi<br />
saya adalah sebuah bidang yang menggairahkan(sebagaimana juga Geometry,<br />
Number Theory, Sport, Music dan bidang-bidang lainnya). Tetapi saya belum<br />
pernah sekalipun terjun ke dunia produksi perangkat lunak. Oleh karena itu,<br />
mohon maaf sekali saya tidak bisa memberikan jawaban terhadap pertanyaan ini<br />
dikarenakan tidak adanya pengalaman dalam industri ini.</p>
<p>Tetapi kalau boleh, mungkin saya bisa sedikit menulis tentang beberapa<br />
system yang pernah saya pakai dan pendapat saya tentang system tersebut:<br />
1. GNU Emacs<br />
Ini adalah system yang benar-benar sangat saya cintai dan sayangi. Sekilas<br />
memandang, Emacs terkesan hanyalah sebuah text editor. Dan sebenarnya memang<br />
betul, karena pada mulanya Emacs didesign sebagai sebuah text editor. Tetapi<br />
sebetulnya, GNU Emacs adalah sebuah user environment dan sebuah Lisp machine<br />
yang bernama ELisp(kepanjangan dari Emacs Lisp).<br />
Banyak program telah ditulis untuk dijalankan oleh ELisp ini(tentu saja<br />
dalam user environment Emacs). Dan sebagian besar pekerjaan saya yang<br />
berhubungan dengan komputer saya kerjakan didalam environment ini dengan<br />
menggunakan program-program yang dijalankan oleh ELisp tersebut).<br />
2. PLT Scheme<br />
PLT Scheme adalah sebuah implementasi dari bahasa Scheme. PLT Scheme<br />
didistribusikan dengan sebuah environment, yaitu DR Scheme. PLT Scheme<br />
sangatlah tidak practical untuk memproduksi sebuah program komersial<br />
dikarekan sedikitnya library yang bisa dipakai dan banyak hal-hal yang<br />
sering digunakan tidak terdapat secara penuh disini, misalnya library untuk<br />
membuat graphical user interface.<br />
3. Lisp<br />
Bahasa ini mempunyai banyak sekali anak. Salah duanya adalah ELisp dan<br />
Scheme(tetapi kemudian Scheme dianggap merupakan sebuah kebudayaan diluar<br />
Lisp). Dewasa ini Common Lisp adalah yang paling luas dipakai dan<br />
sesungguhnya, bisa digunakan dalam level system programming. Tetapi<br />
sebagaimana interpreter dan compiler Cobol(bahkan yang paling baru<br />
sekalipun) yang hanya digunakan untuk memaintenance kode-kode lama, begitu<br />
juga dengan Lisp.<br />
4. Haskell<br />
Pendapat saya mengenai Haskell kurang lebihnya sama dengan pendapat saya<br />
mengenai Scheme.<br />
5. Logo<br />
Banyak pendapat yang mengaitkan Logo dengan kura-kura yang manis. Ini memang<br />
benar, tetapi yang paling menggairahkan adalah kemampuannya untuk mengolah<br />
kata-kata(sebagaimana yang sering kita lakukan dengan Perl).<br />
6. ML<br />
Pendapat saya mengenai ML kurang lebihnya sama dengan pendapat saya mengenai<br />
Scheme.<br />
7. Squeak(sebuah implementasi dari SmallTalk)<br />
Jika kita ingin memandang sebuah aktifitas komputasi sebagai sebuah dunia,<br />
maka cobalah Squeak.<br />
8. Python, Perl, Java<br />
Jika ingin memproduksi software untuk dijual, maka, produksilah dengan<br />
bahasa-bahasa ini. Java adalah standar industri sebagaimana Cobol pada jaman<br />
dahulu. Tetapi Perl banyak digunakan untuk unix system administration dan<br />
untuk mengolah text. Adapun Python, mungkin saya hanya bisa berkata bahwa<br />
Python adalah bahasa yang seperti Java, hanya saja Python lebih mudah,<br />
sederhana, dan lebih cepat digunakan untuk memproduksi software(dengan kata<br />
lain lebih efficient, cost saving-nya tinggi).</p>
<p>Tentu saja ini adalah opini saya pribadi. Dan pasti, kemungkinan akan salah<br />
sangatlah besar. Adapun untuk kekurangan tersebut saya memohon maaf yang<br />
sebesar-besarnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.kongtai.org/2010/06/belajar-computational-theory-untuk-pertama-kali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Opini Mengenai Kasus Pemerkosaan Di Mata Hukum dan Moral</title>
		<link>http://blog.kongtai.org/2010/06/opini-mengenai-kasus-pemerkosaan-dimata-hukum-dan-moral/</link>
		<comments>http://blog.kongtai.org/2010/06/opini-mengenai-kasus-pemerkosaan-dimata-hukum-dan-moral/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 05:55:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Etika dan Hukum]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[hukum]]></category>
		<category><![CDATA[kasus]]></category>
		<category><![CDATA[moral]]></category>
		<category><![CDATA[pemerkosaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.kongtai.org/2010/06/opini-mengenai-kasus-pemerkosaan-dimata-hukum-dan-moral/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini juga pernah aku kirim ke salah satu milis. Tetapi untuk bahan diskusi, aku pikir tidaklah masalah bila aku kirimkan juga di blog ini. Didalam konteks etik, atau yang disebut sebagai sistem moral, kita mengetahui bahwa itu adalah sebuat set konsepsi yang mana telah dikembangkan oleh seluruh masyarakat manusia didalam medan sejarah. Sekarang ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini juga pernah aku kirim ke salah satu milis. Tetapi untuk bahan diskusi, aku pikir tidaklah masalah bila aku kirimkan juga di blog ini.</p>
<p>Didalam konteks etik, atau yang disebut sebagai sistem moral, kita<br />
mengetahui bahwa itu adalah sebuat set konsepsi yang mana telah<br />
dikembangkan oleh seluruh masyarakat manusia didalam medan sejarah.<br />
Sekarang ini kita memahami dan dengan bahagia bersedia menerima bahwa<br />
semua orang diciptakan sama(atau untuk mereka yang tidak percaya<br />
keberadaan Tuhan atau supreme being, semua orang lahir dengan hak dan<br />
kewajiban yang sama). Bahkan, banyak dari kita yang langsung mengingat<br />
Liberté, égalité, fraternité.</p>
<p>Perbedaan kelas telah digunakan sebagai pondasi hukum bagi para<br />
pencari keadilah selama berabad-abad. Kelas-kelas tersebut terdapat<br />
dalam berbagai bentuk seperti kekayaan(atau kemakmuran – wealth), ras<br />
atau suku bangsa manusia, warga negara(citizenship), gender, dan<br />
status sosial atau posisi seseorang didalam konteks kenegaraan dan<br />
militer.</p>
<p><span id="more-32"></span>Didalam dunia kuno, perbedaan gender mempunyai arti bahwa terdapat<br />
perbedaan hak yang dimiliki oleh pria dan wanita secara signifikan.<br />
Tetapi dunia kuno yang saya maksud, mengacu kepada Romawi Kuno(baik<br />
Roman Republic maupun Roman Empire) dan seluruh negara kota Yunani<br />
dengan pengecualian Sparta. Bahkan di negara-negara modern sebelum<br />
1930, hanya ada beberapa negara yang satu tahu telah menghapus<br />
perbedaan gender secara keseluruhan(atau hampir secara keseluruhan)<br />
seperti Prussia dan Soviet Union. Alasan ini adalah salah satu(atau<br />
mungkin adalah alasan utama) alasan adanya pergerakan feminisme.</p>
<p>Sekarang ini, pemahaman orang-orang modern mengenai moral dan etik<br />
dalam konteks hak dan kewajiban antara pria dan wanita adalah<br />
persamaan dimiliki oleh semua orang, baik wanita maupun pria didalam<br />
seluruh fakultas kehidupan manusia, apakah itu hukum, politik,<br />
ekonomi, militer, musik, ataupun yang lain. Didalam konteks sistem<br />
hukum, sebuah tindakan yang salah akan selalu menjadi tindakan yang<br />
salah, apapun alasannya, dengan pengecualian alasan yang valid dimuka<br />
hukum yang berdasarkan keadilan, persamaan, dan kebebasan.</p>
<p>Adalah terdapat bermacam-macam aktifitas kriminal, salah satunya<br />
yaitu pemerkosaan. Dalam dunia ideal, tidaklah ada pengampunan untuk<br />
kejahatan seperti ini. Pemerkosa tidaklah valid kalau memberikan<br />
argumentasi:<br />
1. Salah sendiri dia memakai pakaian seksi seperti itu<br />
2. Salah sendiri dia (nama ras tertentu disini)</p>
<p>Bila seseorang mencuri sebuah mobil, dan kemudian tertangkap, sebagai<br />
pembelaan, pencuri tersebut berkata &#8220;salah sendiri dia memakai mobil&#8221;<br />
atau &#8220;salah sendiri dia parkir sembarangan&#8221;. Apakah alasan-alasan<br />
seperti ini valid? Tidak! Sekali-kali tidak! Crime is crime whatever<br />
the reason. Bahkan dalam kasus ini, alasan-alasan tersebut sangatlah<br />
tidak bisa diterima secara hukum dan moral. Ini sangatlah mirip dengan<br />
kasus pemerkosaan diatas yang mana sang pemerkosa memberikan argumen<br />
bahwa salah wanita tersebut memakai pakaian seksi. Seorang wanita<br />
memakai pakaian seksi atau tidak itu adalah hak wanita tersebut.<br />
Pemerkosaan adalah pemerkosaan, no argument!</p>
<p>Yang kedua, ras itu adalah hal yang tidak boleh diganggu-gugat. Setiap<br />
manusia, tidaklah mungkin untuk memilih dalam ras apa dia nanti akan<br />
dilahirkan. Setiap argumentasi yang menyangkut tindakan menyalahkan<br />
seseorang atas dasar ras secara hukum dan moral TIDAK DAPAT DIBENARKAN<br />
dan TIDAK DAPAT DITERIMA. Argumentasi ras secara valid hanyalah bisa<br />
digunakan dalam konteks ilmu biologi murni ataupun cabang-cabang ilmu<br />
pengetahuan yang lain, tetapi tidak boleh digunakan dalam konteks<br />
mencari keuntungan secara hukum atau ekonomi dan politik.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.kongtai.org/2010/06/opini-mengenai-kasus-pemerkosaan-dimata-hukum-dan-moral/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenai Kerumitan Lisensi Software &#8211; Overture</title>
		<link>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-kerumitan-lisensi-software-overture/</link>
		<comments>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-kerumitan-lisensi-software-overture/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 05:52:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Komputer]]></category>
		<category><![CDATA[lisensi]]></category>
		<category><![CDATA[operating system]]></category>
		<category><![CDATA[overture]]></category>
		<category><![CDATA[software]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-kerumitan-lisensi-software-overture/</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini pernah saya muat di sebuah milis, dan saya pikir tidaklah masalah bila aku muat sekali lagi disini sebagai bahan diskusi. Lisensi software dewasa ini begitu komplek sehingga pengguna software dibuat bingung olehnya. Pengetahuan masyarakat umum akan lisensi software sama dengan kondisi pengguna mobil terhadap pengetahuan mekanika. Pengguna mobil di Jakarta ini sangatlah sedikit [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini pernah saya muat di sebuah milis, dan saya pikir tidaklah masalah bila aku muat sekali lagi disini sebagai bahan diskusi.</p>
<p>Lisensi software dewasa ini begitu komplek sehingga pengguna software dibuat bingung olehnya. Pengetahuan masyarakat umum akan lisensi software sama dengan kondisi pengguna mobil terhadap pengetahuan mekanika. Pengguna mobil di Jakarta ini sangatlah sedikit yang mengerti permasalah mekanik,<br />
energi, teori transportasi, dan juga permasalahan lingkungan ataupun<br />
juga permasalah legal system yang menyangkut dunia mobil.</p>
<p>Nah dengan pengetahuan yang sangat minim tersebut, bila ada hukum yang<br />
misalnya mengharuskan pemilik mobil supaya menggunakan suku cadang<br />
asli dari produsen mobilnya, apakah hal ini bisa diterapkan 100% tanpa<br />
proses edukasi terlebih dahulu? Karena orang pergi ke bengkel untuk<br />
memperbaiki komputer dan banyak yang tidak mengerti perbedaan antara<br />
satu part yang di produksi produsennya(KW1) dengan yang diproduksi<br />
produsen lain(KW2, KW3, dan seterusnya).<br />
Bukankah dengan ini sangat mudah bagi konsumen untuk menggunakan<br />
produk KW2 kalau tidak tahu perbedaannya?<br />
Sekarang saya tanya, berapa banyak sih perbandingan orang yang tahu<br />
masalah Internal Combustion Engine, Suspension, dan hal-hal lain yang<br />
berhubungan dengan mobil?</p>
<p><span id="more-31"></span>Memang perbandingan antara masalah legalisasi software dengan suku<br />
cadang asli mobil adalah simplifikasi luar biasa tetapi yah gak<br />
apa-apa lah sebagai bahan diskusi.</p>
<p>Nah pengguna komputer dewasa sebagaimana pengguna mobil kebanyakan<br />
tidaklah mengerti berbagai ragam issue mengenai bidang studi<br />
komputer(tetapi tentu saja juga banyak yang tidak mau mengerti).</p>
<p>Dengan sedikit pengetahuan ini, sangatlah susah bagi orang kebanyakan<br />
untuk mengerti masalah lisensi dan berbagai macam masalah legalitas<br />
yang berbelit-belit kecuali adanya edukasi yang luas mengenai issue<br />
tersebut.</p>
<p>Sekarang, marilah kita mencoba membuat perbandingan antara system<br />
sekarang dan system yang dipakai secara luas pada jaman dulu dan<br />
hubungannya dengan para penggunanya dan juga tingkat pengetahuannya.<br />
Jadi dengan perbandingan ini kita bisa mengetahui evolusi dari<br />
penggunaan komputer dan pandangan masyarakat tentang hal tersebut.</p>
<p>Pada jamannya Unix menempati posisi Windows sekarang ini yaitu sebagai<br />
operating system yang teramat sangat mudah digunakan oleh orang yang<br />
bukan ahli komputer.<br />
Mungkin akan terasa sangat ganjil bagi kita yang baru mengetahui hal<br />
ini. Tetapi marilah kita tengok OS standard jaman itu. Cobalah kita<br />
sekali-kali menggunakan MIT Incompatible Timesharing System, dari sini<br />
kita akan paham, bahwa OS pada jam tersebut pada dasarnya hanyalah<br />
digunakan oleh para ahli mathematics, computational theory, ataupun<br />
ahli artificial intelligence. Sedangkan Unix bisa digunakan oleh orang<br />
kebanyakan.</p>
<p>Nah sekarang, kita memandang Unix itu sendiri terlalu komplek untuk<br />
dipakai oleh orang kebanyakan. Dengan pengecualian kalau Unix itu<br />
sudah di pack sedemikian rupa sehingga mudah dipakai oleh orang banyak<br />
seperti Ubuntu dan MacOS X.</p>
<p>Jadi intinya, hal legalitas adalah hal yang teramat sangat susah dan<br />
komplek.  Saya juga mohon maaf bila tulisan saya ini agak berbelit dan<br />
banyak yang tidak tepat tujuan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-kerumitan-lisensi-software-overture/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenai Fotography &#8211; Sebuah Opini</title>
		<link>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-fotography-sebuah-opini/</link>
		<comments>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-fotography-sebuah-opini/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 05:28:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni]]></category>
		<category><![CDATA[fotografi]]></category>
		<category><![CDATA[fotography]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-fotography-sebuah-opini/</guid>
		<description><![CDATA[Foto adalah sebuah penciptaan momen, atau mungkin momen itu sendiri hadir dalam kapasitas eksistensi karya fotografi. Dulu painting disebut sebagai satu hal yang mampu menciptakan &#8220;depiction of reality&#8221;, tetapi kemudian hadirlah fotography, dan yang satu ini benar-benar mampu menciptakan realitas yang sesungguhnya, tidak hanya form, tidak hanya color, tidak hanya gesture, tapi sebuah keseluruhan, keseluruhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Foto adalah sebuah penciptaan momen, atau mungkin momen itu sendiri<br />
hadir dalam kapasitas eksistensi karya fotografi. Dulu painting<br />
disebut sebagai satu hal yang mampu menciptakan &#8220;depiction of<br />
reality&#8221;, tetapi kemudian hadirlah fotography, dan yang satu ini<br />
benar-benar mampu menciptakan realitas yang sesungguhnya, tidak hanya<br />
form, tidak hanya color, tidak hanya gesture, tapi sebuah keseluruhan,<br />
keseluruhan yang sangat menyeluruh.</p>
<p>Tetapi, bisa jadi juga momen yang tercipta bukanlah momen yang<br />
menyeluruh, bukan sebuah momen yang benar-benar real, benar-benar<br />
nyata, karena kamera dan lensa(atau mungkin kedua-duanya, atau salah<br />
satu dari dua hal tersebut, atau mungkin dalam konteks ini lensa<br />
adalah kesatuan dengan kamera, atau mungkin lensa itu sendiri inti<br />
dari kamera, aku gak tahu) adalah mata yang memungkinkan momen<br />
tercipta. Bagaimana dengan sisi lain yang tidak mendapat perhatian<br />
dari mata itu pada saat mata itu menciptakan sebuah momen? Bukankah<br />
ini menjadikan mata tersebut hanya menciptakan sebuah sisi dari sebuah<br />
momen, bukan semua aspek dan semua sisi dari momen tersebut? Ahh,<br />
walaupun mungkin tidak komplit dan menyeluruh, yang penting ada momen<br />
yang bisa dilihat oleh semua orang. Ada momen yang bisa dinikmati oleh<br />
orang-orang di seantero jagad.</p>
<p><span id="more-29"></span>Kalau ada orang yang bertanya kepadaku apakah aku pernah mengambil<br />
sebuah momen dengan mata ini, aku akan bilang, pernah, tapi hanya<br />
sekali atau dua kali, tapi biarlah, yang penting aku mendapat<br />
&#8220;feel&#8221;nya, walaupun hanya 0.234% dari keseluruhan feel yang 100% itu.</p>
<p>Di perpustakaan departemen pendidikan, yang letaknya di samping ratu<br />
plaza bundaran senayan, aku melihat ada satu buku yang memberikan<br />
introduction ke bidang photography(letaknya ada dibagian reference<br />
kalau mungkin ada yang berminat). Disitu terdapat banyak sekali<br />
koleksi-koleksi foto. Tetapi aku menemukan beberapa topik yang bisa<br />
dibilang mungkin dengan sebutan &#8220;mainstream&#8221;, yaitu pembahasan tentang<br />
wanita, yaitu &#8220;naked woman&#8221;, &#8220;woman in bed&#8221;, &#8220;woman in front of<br />
mirror&#8221;, &#8220;woman in bath&#8221;, &#8220;dan perempuan yang lagi menyisir<br />
rambutnya&#8221;, atau juga &#8220;perempuan yang memandikan anaknya&#8221;, dan<br />
tentunya &#8220;classical beauties&#8221; atau paling tidak personifikasi dari<br />
classical beauties tersebut, seperti kata Peter Watson, &#8220;Benzina&#8221;,<br />
&#8220;Faustine&#8221;, &#8220;Celestine&#8221;, dllllll</p>
<p>Karena karya fotografi menciptakan momen, maka, karya tersebut bisa<br />
menjadi objek studi, sebagaimana halnya yang terjadi di bidang-bidang<br />
yang lain, seperti cinematography, painting, drawing, stamps, dan<br />
lain-lain.</p>
<p>* Remember, ini hanya opini pribadi tanpa dasar pengetahuan mengenai<br />
seni fotografi secara khusus.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-fotography-sebuah-opini/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bilamana Saya Adalah Seorang Atheis I</title>
		<link>http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-saya-adalah-seorang-atheis-i/</link>
		<comments>http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-saya-adalah-seorang-atheis-i/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 05:25:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[atheist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-saya-adalah-seorang-atheis-i/</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi ateis adalah salah satu hal yang memungkinkan bagiku. Kenapa begitu? Karena dengan menjadi ateis: 1. aku tidak perlu membuang-buang waktu yang sangat precious untuk pergi ke gereja atau tempat ibadah lain dan tentunya juga dengan berdoa 2. aku bisa menjadi baik karena aku belajar etik dan karena aku memang ingin menjadi baik, bukan karena [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi ateis adalah salah satu hal yang memungkinkan bagiku. Kenapa<br />
begitu? Karena dengan menjadi ateis:<br />
1. aku tidak perlu membuang-buang waktu yang sangat precious untuk<br />
pergi ke gereja atau tempat ibadah lain dan tentunya juga dengan<br />
berdoa<br />
2. aku bisa menjadi baik karena aku belajar etik dan karena aku memang<br />
ingin menjadi baik, bukan karena takut dihukum di neraka<br />
3. aku yakin kok bila ada Tuhan diatas langit sana, pasti Tuhan<br />
tersebut lebih menyukai orang yang benar-benar berusaha untuk belajar<br />
ilmu pengetahuan daripada orang yang setiap hari di tempat ibadah gak karuan<br />
kayak gitu yang cuman bisanya berdoa tiap hari biar gak masuk neraka<br />
aja. Kalau misalnya Tuhan itu ada, pasti nanti dia akan bertanya<br />
padaku &#8220;Woi Manusia, kenapa kamu tidak percaya padaku?&#8221; dan aku akan<br />
menjawab &#8220;no sufficient proof God, no sufficient proof.&#8221;</p>
<p><span id="more-25"></span>Dan juga, mengulangi point 1, kalau kita sadar bahwa waktu kita ini<br />
sangat berharga, kenapa kita tidak menghabiskannya dengan hal-hal yang<br />
bagi kita sangat bermakna? Dengan berdagang. Dengan mempelajari ilmu<br />
pengetahuan. Dengan bercinta dengan kekasih hati kita dan lain<br />
sebagainya.</p>
<p>Bukankah permasalahan &#8220;makan apa kita nanti?&#8221; dan permasalahan<br />
&#8220;sayang, kita bercinta yuk&#8221; itu lebih penting daripada pergi ke tempat<br />
ibadah dan berdoa?</p>
<p>Dengan meniru argumen diatas:<br />
1. andaikan aku Kristen, tetapi ternyata Islam yang benar, tentunya<br />
aku akan dihukum di neraka jahanam.<br />
2. andaikan aku Islam, tetapi ternyata Kristen yang benar, tentunya<br />
aku akan dihukum di inferno<br />
3. tetapi, bila yang benar ternyata agama yunani kuno, tentunya gak<br />
ada ruginya juga, karena aku pasti masuk ke Asphodel Meadows doang<br />
kok, gak sampai ke Tartarus.<br />
4. aku sendiri tidak begitu memahami Budha maupun Hindu, tetapi, bila<br />
yang aku tahu benar, maka setiap orang yang bijaksana dan menghormati<br />
dan mencintai orang lain maka akan terberkati, apapun agama mereka.</p>
<p>Dan untuk yang beragama apapun juga, bagaimana kita tahu bahwa agama<br />
yang kita anut adalah yang benar? Bagaimana bila salah? Pastinya bila<br />
salah kita akan ke neraka juga(asumsikan saja begini untuk<br />
sederhananya). Daripada begitu, bukankah mending kita jadi atheis<br />
saja, jadi gak usah susah2 berdoa atau ke tempat ibadah, toh kan kita<br />
juga akan masuk ke neraka orang kita gak tahu mana yang benar kok,<br />
hehehehe&#8230;</p>
<p>Nah, biasanya orang berkata bahwa mereka mempercayai Tuhan karena<br />
mereka percaya dan merasa bahwa Tuhan itu ada. Aku sendiri juga<br />
begitu, aku merasa dan percaya bahwa Tuhan itu tidak ada.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-saya-adalah-seorang-atheis-i/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bilamana Saya Adalah Seorang Atheist II</title>
		<link>http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-saya-adalah-seorang-atheist-ii/</link>
		<comments>http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-saya-adalah-seorang-atheist-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 05:24:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[atheism]]></category>
		<category><![CDATA[atheist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-saya-adalah-seorang-atheist-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Dan satu hal lagi, aku sendiri berasal dari bangsa Jawa. Dan begini yang aku tahu mengenai bangsaku. Bangsaku pada dasarnya adalah pemuja alam, terutama pepohonan dan tanah(yang menjaga kesuburan). Kemudian, pemujaan inipun tidak terkonsentrasi ke &#8220;pemujaan&#8221; secara khusus(kecuali sanctuary-sanctuary tradisional Jawa yang berkenaan dengan pemujaan alam), karena bagaimanapun juga, kebanyakan dari mereka tidak peduli dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dan satu hal lagi, aku sendiri berasal dari bangsa Jawa. Dan begini<br />
yang aku tahu mengenai bangsaku.</p>
<p>Bangsaku pada dasarnya adalah pemuja alam, terutama pepohonan dan<br />
tanah(yang menjaga kesuburan). Kemudian, pemujaan inipun tidak<br />
terkonsentrasi ke &#8220;pemujaan&#8221; secara khusus(kecuali sanctuary-sanctuary<br />
tradisional Jawa yang berkenaan dengan pemujaan alam), karena<br />
bagaimanapun juga, kebanyakan dari mereka tidak peduli dengan<br />
kedewataan secara khusus. Sepanjang tanah mereka tetap menghasilkan,<br />
maka itu sudah lebih dari cukup untuk hidup.</p>
<p><span id="more-26"></span>Kemudian datanglah agama Shiva dan Vishnu. Dan kemudian datang juga agama Budha.<br />
Dua agama ini memang merubah pandangan bangsaku secara general.<br />
Tetapi, hal ini kurang lebihnya terbatas di lingkungan kerajaan dan<br />
perkotaan. Sedangkan masyarakat pedesaan tetap dengan diri asli<br />
mereka(tentunya hanya tidak semua begini).</p>
<p>Datang juga Islam dan Kristen, dan kemudian, secara general, bangsaku<br />
beralih ke agama baru ini, walaupun masih ada yang mempertahankan<br />
agama Shiva, seperti masyarakat Tengger misalnya(karena satu dan lain<br />
hal, dan inipun bisa dibahas lebih panjang).</p>
<p>Nah, oleh karena itu, kenapa aku musti peduli terhadap agama Islam dan<br />
Kristen? Toh mereka by-product kebudayaan Yahudi dan Arabia. Karena<br />
aku sadar, sebagaimana bangsaku dulu hanya perlu kesuburan tanah,<br />
akupun hanya perlu daganganku laku. Hanya itu. Aku tidak perlu<br />
bergulat dengan konsep afterlife. Karena bagaimanapun juga, konsep itu<br />
eksis dalam agama-agama tertentu dan bukan semua agama. Dan tentunya<br />
agama itu sangatlah banyak dan beragam, kenapa kita bisa memandang<br />
bahwa salah satunya mesti benar?</p>
<p>1. Tao adalah by-product kebudayaan Tiongkok,<br />
2. Islam adalah by-product kebudayaan Arabia,<br />
3. Kristen adalah by-product kebudayaan Yahudi,<br />
4. reduksi : Agama adalah by-product kebudayaan tertentu<br />
Oleh karena itu, mereka merefleksikan kehidupan dan pemikiran<br />
kebudayaan-kebudayaan tersebut.</p>
<p>Satu hal yang aku sangat sukai dari Shiva maupun Budha, yaitu bahwa,<br />
mereka berdua memandang bahwa kebenaran dan kebijaksanaan bisa<br />
tercapai dalam segala hal, segala pandangan, dan segala bentuk<br />
pengetahuan(tapi bisa jadi juga aku salah, karena pengetahuanku soal<br />
Shiva maupun Budha sangatlah sedikit bahkan bisa dikatakan buta).</p>
<p>Nah kalau aku ditanya apakah agamaku maka aku akan menjawab:<br />
1. aku adalah seorang atheis<br />
2. walaupun aku atheis tapi aku menghormati alam sebagaimana leluhurku<br />
3. walaupun aku menghormati alam per se sebagaimana leluhurku, tetapi<br />
aku juga menghormati dan berkeinginan mempelajari agama-agama didunia<br />
ini, karena agama-agama tersebut adalah by-product kebudayaan manusia,<br />
dan dengan begitu, mempelajari agama-agama tersebut adalah salah satu<br />
metode untuk mempelajari kebudayaan-kebudayaan tersebut. Agama dengan<br />
kata lain adalah sebuah fosil kebudayaan manusia. Tetapi fosil ini<br />
adalah yang berujud fosil per se, seperti agama Yunani kuno, ada juga<br />
yang berkembang, seperti Kristen dan Islam dan Budha dan Shiva.</p>
<p>Kenapa aku menyebut agama Shiva secara khusus dan bukan agama Hindu?<br />
Karena di tanah jawa terdapat pertentangan yang halus antara pengikut<br />
Shiva dan Vishnu. Vishnu sangatlah populer dikalangan kerajaan Kediri<br />
dan Jenggala. Tetapi, Shiva adalah yang dipuja secara khusus oleh<br />
pendeta pada masa itu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-saya-adalah-seorang-atheist-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bilamana Saya Adalah Seorang Atheist III</title>
		<link>http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-aku-adalah-seorang-atheist-iii/</link>
		<comments>http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-aku-adalah-seorang-atheist-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 05:23:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[atheism]]></category>
		<category><![CDATA[atheist]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-aku-adalah-seorang-atheist-iii/</guid>
		<description><![CDATA[Oh ya, aku sendiri secara pribadi memandang agama dalam konteks agama itu indah dan menawan atau tidak. Dan juga tentunya kompleksitas agama itu sendiri. Salah satu sebab kenapa aku menyukai Budha dan Hindu adalah karena keindahan dan kompleksitasnya. Bukannya aku mau menghina pengikut agama Kristen(entah protestan, Katholik, ataupun Ortodok), tetapi Injil itu sendiri sangat garing [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oh ya, aku sendiri secara pribadi memandang agama dalam konteks agama<br />
itu indah dan menawan atau tidak. Dan juga tentunya kompleksitas agama<br />
itu sendiri.</p>
<p>Salah satu sebab kenapa aku menyukai Budha dan Hindu adalah karena<br />
keindahan dan kompleksitasnya.</p>
<p>Bukannya aku mau menghina pengikut agama Kristen(entah protestan,<br />
Katholik, ataupun Ortodok), tetapi Injil itu sendiri sangat garing dan<br />
tidak ada indah-indahnya.</p>
<p><span id="more-27"></span>Aku sendiri tidak bisa mengatakan alasannya per se, tetapi aku bisa<br />
mencoba dengan menyarankan, bandingkanlah Corpus Hermeticum dengan<br />
Injil, maka aku yakin kita akan langsung dapat gambarannya dengan yang<br />
aku sebut sebagai keindahan dan kompleksitas.</p>
<p>Bagi temen-temen yang beragama Protestan dan Katholik, mohon jangan<br />
membenciku karena kata-kataku ini. Aku sendiri berani menulis begitu<br />
karena aku berkeyakinan bahwa milis Kongtai ini adalah milis  yang<br />
sangat terbuka dan tidak fanatik buta terhadap agama. Oleh karena itu,<br />
bila aku menyinggung perasaan temen-temen disini, mohon jangan<br />
membenciku secara perseorangan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.kongtai.org/2010/06/bilamana-aku-adalah-seorang-atheist-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenai Bangsa Tiongkok &#8211; Opini Pribadi &#8211; Overture</title>
		<link>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-bangsa-tiongkok-opini-pribadi-overture/</link>
		<comments>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-bangsa-tiongkok-opini-pribadi-overture/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 05:22:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[confucius]]></category>
		<category><![CDATA[sun tzu]]></category>
		<category><![CDATA[tiongkok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-bangsa-tiongkok-opini-pribadi-overture/</guid>
		<description><![CDATA[Bangsa Tiongkok adalah bangsa yang teramat sangat tua. Tua dalam hal ini tidaklah dalam konteks umur secara per se, karena kalau hanya begitu, maka seluruh atau mungkin sebagian bangsa di penjuru bumi ini juga sangat tua. Tetapi tua dalam hal ini adalah dalam konteks kebudayaan dan peradaban. Kebudayaan dan peradaban tersebut sebenarnya mengacu kepada beberapa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bangsa Tiongkok adalah bangsa yang teramat sangat tua. Tua dalam hal<br />
ini tidaklah dalam konteks umur secara per se, karena kalau hanya<br />
begitu, maka seluruh atau mungkin sebagian bangsa di penjuru bumi ini<br />
juga sangat tua. Tetapi tua dalam hal ini adalah dalam konteks<br />
kebudayaan dan peradaban.</p>
<p>Kebudayaan dan peradaban tersebut sebenarnya mengacu kepada beberapa<br />
hal yang bagi kita sangat sederhana dan mungkin tidak pernah<br />
memberikan kesan mendalam pada diri kita sendiri, tetapi, hal-hal<br />
tersebut sangatlah esensial dalam konteks sejarah umat manusia:<br />
1. bahasa -&gt; TULISAN -&gt; poetry<br />
2. masyarakat -&gt; KOTA<br />
Tiongkok mempunyai kota yang teramat sangat komplek. Chang&#8217;an adalah<br />
salah satu contohnya. Kota ini mempunyai design yang sangat abstrak.<br />
Dan pada masanya, bahkan bila tentara kekaisaran Romawi semisal<br />
menyerbu Chang&#8217;an, pasti mereka akan kalah total. Bahkan artileri<br />
modern pada masa perang dunia ke dua saja tidak mampu merusak tembok<br />
kota ini, apalagi hanya teknologi-teknologi siege abad 1 masehi.<br />
Sepanjang yang aku tahu, kota di Jepang dibangun dengan design yang<br />
sama dengan kota ini. Kalau tidak salah kota tersebut namanya<br />
Osaka(yang kalau tidak salah dibangun atau mungkin diperbaharui oleh<br />
Toyotomi Hideyoshi tapi aku tidak yakin) atau Edo(yang dibangun oleh<br />
Tokugawa Ieyasu).<br />
<span id="more-24"></span>3. PERDAGANGAN<br />
Walaupun dalam sejarah Tiongkok tidak pernah men-devise sistem<br />
perdagangan yang se-mature kapitalistis, tapi perdagangan sangatlah<br />
maju, sebagaimana yang terjadi di Florence pada abad pertengahan,<br />
Eropa-Jerusalem pada masa saint Godrick, dan juga imperium Ebla di<br />
daerah Mesopotamia dengan Mesir kuno.</p>
<p>Aku sendiri bisa dikatakan buta terhadap keindahan budaya dan<br />
peradaban Tiongkok. Aku sendiri hanya pernah membaca sedikit material<br />
mengenai subjek ini. Tetapi dari bacaanku yang sedikit itu, aku<br />
memperoleh gambaran berikut ini. Tetapi bila ada yang salah, mohon<br />
maafkan.</p>
<p>Order(keteraturan) dan Ethics adalah dua prinsip utama dimana<br />
&#8220;keseluruhan yang ada&#8221; terbentuk. Keseluruhan tersebut terbagi dalam<br />
dua hal yaitu cosmos dan manusia. Cosmos dan manusia adalah dua hal<br />
yang teramat sangat berbeda, dua entitas yang totally different.<br />
Tetapi walaupun berbeda, mereka adalah juga kesatuan. Cosmos secara<br />
inherent mempunyai keteraturan yang sangat perfect. Dia(Cosmos itu<br />
sendiri) mempunyai harmoni. Manusia, secara inherent selalu berada<br />
dalam keadaan chaos, ketidakberaturan. Dengan meniru Cosmos, dan<br />
diterapkan dalam kehidupan manusia, maka harmoni akan tercapai. Order<br />
yang ditiru ini direpresentasikan dalam konteks Tian -&gt; Kaisar -&gt;<br />
rakyat.  Dengan rakyat menaati kaisar dan kemudian kaisar menaati<br />
Tian, maka harmoni dalam masyarakat akan tercapai.</p>
<p>Kaisar dan rakyat menerapkan order ini dengan mempelajari ethics.<br />
Ethics-lah yang akan membimbing rakyat dan Kaisar untuk mencapai<br />
harmoni.</p>
<p>Ethics itu sendiri adalah sebuah kompedium hukum(Legalism), kesopanan<br />
dan tata krama(guru Kong terutama mengajarkan tentang hal ini), dan<br />
hubungan kejiwaan antara manusia dengan Cosmos(I-Ching adalah<br />
contohnya).</p>
<p>Hanya sebatas inilah yang aku tahu tentang Tiongkok. Untuk<br />
kesalahannya mohon diberikan petunjuk. Dan untuk kekurangannya mohon<br />
dilengkapi.</p>
<p>Dalam hubungannya dengan Sun Tzu:<br />
Mungkin lebih tepatnya seharusnya kita membatasi diri dengan yang<br />
esensial dari sebuah kebudayaan dan nilai pentingnya. Dalam hal ini,<br />
Sun Tzu mungkin kurang tepat. Karena Sun Tzu adalah military<br />
philosopher atau juga military strategist. Sedangkan military walaupun<br />
adalah hal yang utama dalam konteks kenegaraan di Tiongkok kuno, tapi<br />
tidaklah merupakan sebuah nilai di keseluruhan urat nadi bangsa<br />
Tiongkok, atau dengan kata lain, Tiongkok tidaklah cukup &#8220;keen&#8221; dalam<br />
&#8220;military matters&#8221; berbeda dengan bangsa Romawi yang mana sangat<br />
&#8220;keen&#8221; dalam hal &#8220;military matters&#8221;.</p>
<p>Kenapa begitu? Karena dalam konteks Tiongkok(sebagaimana juga bangsa<br />
Yunani kuno dengan perkecualian Sparta untuk waktu yang sangat<br />
sebentar saja), peperangan ada dalam konteks survival. Tetapi dalam<br />
konteks bangsa Romawi, peperangan adalah urat nadi mereka, dan hal ini<br />
ditunjukkan dengan kampanye-kampanye militernya.</p>
<p>Legalism dan persatuan dengan Cosmos adalah dua inti jiwa bangsa Tiongkok.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-bangsa-tiongkok-opini-pribadi-overture/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengenai Bangsa Yunani Kuno</title>
		<link>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-bangsa-yunani-kuno/</link>
		<comments>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-bangsa-yunani-kuno/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 05:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[Yunani kuno]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-bangsa-yunani-kuno/</guid>
		<description><![CDATA[Yunani, sebuah embodiment dari konsep ideal. Ideal dalam arti dan dalam kontek hidup manusia yang dimanifestasikan dalam berbagai ragam form dan gesture. Mitologinya adalah salah satu contoh, dimana, dunia ini dengan para dewa adalah sebuah tata cara pandang yang paling ideal dalam hidup manusia. Tetapi mungkin lebih tepatnya, mitologinya tersebut adalah sebuah ensiklopedia tentang keseluruhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Yunani, sebuah embodiment dari konsep ideal. Ideal dalam arti dan<br />
dalam kontek hidup manusia yang dimanifestasikan dalam berbagai ragam<br />
form dan gesture. Mitologinya adalah salah satu contoh, dimana, dunia<br />
ini dengan para dewa adalah sebuah tata cara pandang yang paling ideal<br />
dalam hidup manusia. Tetapi mungkin lebih tepatnya, mitologinya<br />
tersebut adalah sebuah ensiklopedia tentang keseluruhan pandangan<br />
hidup bangsa Yunani kuno terhadap kehidupan ini dan terhadap manusia<br />
pada umumnya, yaitu:<br />
1. konsep kingship dalam order dan power<br />
2. konsep procreation, dan yang kemudian love, dan dalam bentuk yang<br />
paling buruk adalah pemerkosaan<br />
3. kebencian dan sifat pengecut<br />
4. asap yang selalu mengepul dari perapian dan selalu tersedianya sup<br />
dan roti adalah dua hal yang menjadi pondasi dasar kehidupan manusia,<br />
yaitu kehangatan fisik dan perut<br />
5. pengetahuan dengan hubungannya dalam ketentaraan<br />
6. pengetahuan dalam hubungannya dengan kemudaan<br />
7. dll</p>
<p><span id="more-23"></span>Agama Yunani kuno adalah sebuah agama yang sangat sederhana sekaligus<br />
sangat komplek. Para dewa tidak lebih daripada manusia yang mempunyai<br />
hubungan dengan dunia alam dan terikat kepada nasib, ruang, dan waktu,<br />
dan tentunya juga kebutuhan-kebutuhan.</p>
<p>Ketika kita meninggalkan agama dan menuju kehidupan nyata, tampaklah,<br />
bahwa pendidikan adalah sebuah sumber dari pembentukan manusia ideal.<br />
Pendidikan tersebut, pada dasarnya didasarkan kepada:<br />
1. pendidikan militer dan pendidikan olahraga untuk melatih raga<br />
Tubuh seorang pria yang sangat sportif adalah tubuh ideal seorang pria<br />
muda dan oleh karena itulah ketelanjangan pria adalah sebuah hal yang<br />
sangat indah karena itu adalah representasi dari idealisme seorang<br />
pria yang mana hal itu lahir dari pendidikan militer dan pendidikan<br />
olahraganya.<br />
2. pendidikan musik untuk melatih jiwa<br />
Ini adalah yang tidak begitu aku mengerti, karena para muses dalam<br />
bangsa Yunani kuno tidak begitu menempati tempat yang tinggi dalam<br />
konstelasi sosial, tetapi kenapa bisa ada sebuah konsep pendidikan<br />
musik untuk jiwa?<br />
3. pendidikan geometri untuk melatih ketrampilan berpikir<br />
seluruh konstelasi filsafat Yunani pada awal mula yang paling dasar<br />
tampak dalam bentuk mathematics, dan dalam konteks Yunani kuno,<br />
geometry adalah mathematics itu sendiri. Sedangkan kemudian kita<br />
mengenal filsafat alam dan kemudian filsafat dialog. Kedua bentuk<br />
filsafat ini sendiri lahir karena pengaruh dari kebudayaan mesir, atau<br />
lebih tepatnya yaitu karena pengaruh Hermeticum, Corpus Hermeticum,<br />
Hermes Trismegistus(tetapi ini adalah opini dan asumsiku pribadi).<br />
Sebagaimana bangsa Eropa sangat menghormati bangsa Yunani kuno, begitu<br />
juga bangsa Yunani kuno ini menghormati bangsa Mesir kuno dengan<br />
keajaiban filsafat, alchemy, geometry, ilmu perbintangan, dan<br />
magus-nya.<br />
4. pendidikan rhetoric untuk melatih ketrampilan berpolitik dan hidup<br />
bermasyarakat<br />
Bahkan, apa yang disebut sebagai seorang master of politic adalah<br />
seseorang yang mempunyai kemampuan rhetoric yang paling excellent,<br />
karena dengan kemampuan ini seseorang tersebut mampu mewujudkan<br />
pemikirannya menjadi kenyataan dalam assembly</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.kongtai.org/2010/06/mengenai-bangsa-yunani-kuno/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Konstruksi Hubungan Percintaan</title>
		<link>http://blog.kongtai.org/2010/06/konstruksi-hubungan-percintaan/</link>
		<comments>http://blog.kongtai.org/2010/06/konstruksi-hubungan-percintaan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 11 Jun 2010 05:13:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>EH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[percintaan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.kongtai.org/2010/06/konstruksi-hubungan-percintaan/</guid>
		<description><![CDATA[Aku sendiri tidak mempunyai pengalaman yang berarti dalam dunia percintaan, tetapi, kalau diperbolehkan, aku juga ingin sedikit menuliskan sedikit yang aku tahu, walaupun kebanyakan hanya merupakan hasil pemikiranku saja dan bukan direct experience. Manusia, mempunyai insting untuk mendapatkan pasangan. Pasangan ini terjadi dalam konteks biological, yaitu hasrat untuk memperoleh keturunan dan melestarikan jenisnya. Tetapi kemudian, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Aku sendiri tidak mempunyai pengalaman yang berarti dalam dunia<br />
percintaan, tetapi, kalau diperbolehkan, aku juga ingin sedikit<br />
menuliskan sedikit yang aku tahu, walaupun kebanyakan hanya merupakan<br />
hasil pemikiranku saja dan bukan direct experience.</p>
<p>Manusia, mempunyai insting untuk mendapatkan pasangan. Pasangan ini<br />
terjadi dalam konteks biological, yaitu hasrat untuk memperoleh<br />
keturunan dan melestarikan jenisnya.</p>
<p>Tetapi kemudian, dengan berlalunya waktu, dengan seiring meningkatnya<br />
peradaban umat manusia, pasangan yang pada awalnya hanya untuk<br />
*beranak* dalam arti per se, menjadi lebih komplek, menjadi sesuatu<br />
yang merupakan bagian dalam konstruksi sosial, yaitu marriage, yang<br />
bertahan sampai saat sekarang ini, dan mungkin untuk jangka waktu lama<br />
di masa yang akan datang.</p>
<p><span id="more-21"></span>Dari segi pribadi umat manusia, aku berusaha membedakannya berdasarkan<br />
jenis kelamin, yaitu pria dan wanita.<br />
1. pria<br />
Pria cenderung berpikir terutama mengenai soal seks, dan hal ini, yang<br />
aku ketahui beberapa bulan yang lalu dari buku yang aku lupa<br />
judulnya(nanti nyusul yah), berasal dari satu entitas enzim yang aku<br />
juga lupa namanya(sekalian menyusul yah).<br />
Bagi wanita, mungkin ini adalah sebuah curse, tapi bagi seorang pria,<br />
berpikir mengenai seks sepanjang waktu adalah hal yang biasa.<br />
Oleh karena ini juga, bagi pria, terdapat besar kemungkinan untuk<br />
cenderung memandang wanita dari segi seks. Kemudian, kecantikan wanita<br />
bagi pria adalah sesuatu hal yang supreme, walaupun kecantikan ini ada<br />
kemungkinan mempunyai arti yang berbeda bagi tiap pria.<br />
2. wanita<br />
Dalam konstruksi sosial dalam sebagian masyarakat dari mulai terbitnya<br />
peradaban manusia sampai beberapa dekade belakang, wanita dipandang<br />
merupakan bagian dari masyarakat yang menempati kelas dua, bersama<br />
dengan anak kecil dan (bisa jadi) para budak.<br />
Wanita, dalam konstruksi sosial seperti ini, hanya berpikir untuk<br />
(semoga) mendapatkan pria yang mampu memberikan proteksi kepada<br />
dirinya, yaitu proteksi dari segi fisik dan financial.<br />
Tetapi, secara naluriah, kalau pria mempunyai hasrat seks yang<br />
menggebu, wanita juga mempunyai hasrat, tetapi hasrat ini ada dalam<br />
dua bentuk, yaitu kebersamaan, dan kasih sayang kepada anak kecil yang<br />
merupakan representasi dari keturunan, dan dirinya sendiri(wanita<br />
cenderung memandang anaknya sebagai dirinya sendiri, bahkan bagian<br />
dari dirinya, karena wanitalah yang secara biologi dan psychology<br />
mengandung dan melahirkan anak).</p>
<p>Hubungan, atau tata cara berhubungan antara pria dengan pria, wanita<br />
dengan wanita, dan pria dengan wanita tentu saja eksis dengan cara<br />
yang berbeda menurut konstruksi sosial yang berlaku pada satu<br />
masyarakat pada satu masa.<br />
Tetapi, hubungan tersebut, mungkin bisa direduksi menjadi hubungan percintaan:<br />
1. dalam konteks aliansi politik dan militer<br />
2. dalam konteks percintaan seks<br />
3. dalam konteks platonic love</p>
<p>Dalam dunia dewasa ini, aku menyebut bahwa ada satu institusi<br />
percintaan. Satu institusi abstrak yang membawahi keseluruhan<br />
konstelasi percintaan yang ada di muka bumi, percintaan berdasarkan<br />
hasrat seks, keinginan untuk mendapatkan proteksi, hasrat memperoleh<br />
keturunan, dan hasrat murni percintaan dalam arti semurni-murninya<br />
yang disebut sebagai platonic love(yang aku tanyakan, apakah ini<br />
sebenarnya, dan apakah ini ada).</p>
<p>Hubungan percintaan(dalam arti yang terluas) mempunyai beberapa topik<br />
yang tidak akan kusentuh dalam tulisan ini:<br />
1. prostitusi<br />
2. pornography<br />
3. percintaan dibawah umur<br />
4. poligamy<br />
5. hubungan seks dengan paksaan dan/atau pernikahan dengan paksa yang<br />
legal dalam hukum masyarakat<br />
6. hubungan percintaan dengan sesama jenis</p>
<p>Sekarang aku hanya ingin membatasi percintaan pada masa sekarang ini<br />
didalam lingkunganku. Aku hanya ingin menekankah sebuah hal, yaitu<br />
ketika seorang pria mulai mendekati wanita, atau wanita mendekati<br />
pria, ada beberapa pertanyaan yang sangat-sangat *kotor* yang<br />
ditanyakan, apalagi oleh bagian dari masyarakat yang lebih tua, alias<br />
orang tua:<br />
1. Apakah si pria/wanita satu agama?<br />
2. Bila iya, apakah si pria/wanita satu ras?<br />
3. Bila iya, apakah si pria/wanita lulusan perguruan tinggi?<br />
4. Bila iya, apakah si pria/wanita mempunyai orang tua yang kaya?<br />
5. Bila iya, langsung proses, bila tidak, mohon maaf, hubungan anda harus batal</p>
<p>Tetapi, dalam lingkungan yang aku kenal sehari-hari, hubungan antara<br />
pria dan wanita sendiri didasarkan pada apa yang disebut sebagai<br />
attraction. Yaitu sebuah/beberapa parameter yang menimbulkan percikan<br />
asmara pada si lelaki atau si perempuan. Parameter-parameter tersebut<br />
biasanya dikelompokkan kedalam:<br />
1. penampilan(yang mana biasanya dikategorikan pada dua hal, yaitu<br />
yang satu wah dan parlente dan yang satunya lagi sederhana namun<br />
cermat)<br />
2. setelah mata terpuaskan, kemudian dilanjutkan dengan hidung, yaitu<br />
bau badan ataupun bau mulut<br />
3. setelah itu, bagaimana si pria/wanita tersebut bersikap,<br />
4. kemudian, bagaimana si pria/wanita tersebut berbicara</p>
<p>Setelah hukum attraction ini berlaku, kemudian yang terjadi adalah si<br />
pria/wanita mendekati lawannya, yang kemudian akan menjadi sebuah<br />
conversation. Conversation ini, bila ternyata memikat si pria/wanita,<br />
dia akan melanjutkan menjadi conversation yang lebih dekat, atau lebih<br />
intim.</p>
<p>Setelah hukum conversation ini sukses, kemudian biasanya dilanjutkan<br />
dengan melakukan aggreable activities, yaitu aktifitas-aktifitas yang<br />
diminati kedua belah pihak. Aktifitas ini biasanya hanya berlangsung<br />
secara sederhana, atau dalam bentuk yang lebih advance, yaitu dalam<br />
bentuk dating. Biasanya dating ini mengambil bentuk dalam konsep<br />
dining(ada yang mau nyoba Il Mare di Mulia, aku rekomendasiin deh buat<br />
para sesepuh kongtai).</p>
<p>Setelah hukum agreable activities ini berjalan mulus, maka biasanya<br />
akan dilanjutkan dengan beberapa hal yang bisa sama, bisa juga<br />
berbeda:<br />
1. bisa jadi kedua belah pihak secara diam-diam akan melepaskan hari<br />
yang lelah di tempat yang mana hanya terdapat kedua belah pihak, dan<br />
kemudian mereka akan melakukan hubungan seks(ahhh bagi cowok, target<br />
telah terpenuhi, mission completed, asoy, nikmatnya dunia ini),<br />
2. bisa jadi kedua belah pihak hanya sampai disitu saja, maju<br />
males2an, mundur ogah2an,<br />
3. bisa jadi kedua belah pihak berusaha lebih mendekati satu sama lain<br />
dan mulai menemani pasangannya dalam melakukan aktifitasnya,<br />
4. bisa jadi mereka akan hidup berdua alias kumpul kebo(kos-ku penuh<br />
tuh pasangan demikian, hehehehe)<br />
5. bisa jadi kedua belah pihak mempersatukan diri mereka dalam konteks<br />
yang semacam pacaran gitu,<br />
6. dll, silakan lanjutkan sendiri&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.kongtai.org/2010/06/konstruksi-hubungan-percintaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

