Mengenai Bapak Pramoedya Ananta Toer Dalam Hubungannya dengan Orang-Orang Tionghoa
Ada yang mencintai bapak Pramoedya ada juga yang membencinya. Bagi yang membencinya, biasanya alasan-alasannya adalah sebagaiberikut:
1. Beliau dulu adalah anggota Lekra dan dengan begitu berarti dia komunis
2. Beliau dulu ikut melarang terbitnya tulisan-tulisan anggota Manifesto Kebudayaan(Manikebu)
3. Beliau bukan saja melarang tetapi juga secara aktif menyerang para anggota Manikebu
Nah sekarang, bila Beliau seorang komunis, terus kenapa? DI-TII memberontak Republik ini, tetapi apakah itu berarti ideologi Islam(dalam hal ini Islam dipandang sebagai sebuah ideologi) adalah ideologi yang terlarang? Terus, bila Partai Komunis Indonesia memberontak terhadap Republik ini, kenapa harus langsung dipahami sebagai sebuah bentuk ideologi terlarang?
Walaupun aku secara pribadi tidak menyukai komunis dalam konteks ideologi masyarakat(alasan saya adalah karena ini akan mengundang penindasan sewenang-wenang dari pihak penguasa) tetapi saya menyukainya dalam konteks ideologi pribadi(karena memberikan pengertian kepada kita bahwa umat manusia itu sama dan harus saling membantu dan mengerti satu sama lain).
Yang kedua dan yang ketiga, Memang benar beliau dulu menyerang secara aktif para anggota Manikebu. Tetapi apakah beliau membakar buku-buku anggota Manikebu? Apakah beliau membunuh anggota Manikebu? Apakah ada anggota Manikebu yang dipenjarakan di tempat pengasingan seperti pulau Buru tanpa diadili terlebih dahulu? Tidak bukan. Walaupun dia menyerang secara aktif, tetapi itu mempunyai arti bahwa beliau membuka sebuah polemik, dan tentu saja polemik seperti ini bisa dilakukan siapapun juga. Dan tentu saja dipersilahkan bagi siapa saja yang berkeinginan untuk membantah.
Dan untuk orang-orang Tionghoa di Indonesia, kenapa harus ada yang membenci beliau? Bukankah beliau salah satu dari sedikit orang Indonesia yang membela orang-orang Tionghoa di Indonesia ini dalam tulisannya “Hoakiau di Indonesia”. Disitu beliau bukan saja membela orang-orang Tionghoa, tetapi juga memberikan pengetahuan mengenai sejarah, dan asal usul orang-orang Tionghoa di Indonesia, dan tentunya hubungan mendasar antara orang-orang Tionghoa dengan orang-orang non-Tionghoa di Indonesia ini.
Hoakiau pada permulaannya mengandung arti orang Tionghoa di perantauan. Tetapi kemudian diartikan sebagai orang Tionghoa secara keseluruhan. Penggunaan kata Hoakiau disini mengandung pengertian bahwa orang Tionghoa di Indonesia sudah dipandang sedemikian rupa sebagai orang asing. Dan hal itulah yang ingin beliau hapuskan. Karena bagaimanapun juga, keseluruhan(atau sebagian besar) orang Indonesia adalah pendatang.