Mengenai Fotography – Sebuah Opini
Foto adalah sebuah penciptaan momen, atau mungkin momen itu sendiri
hadir dalam kapasitas eksistensi karya fotografi. Dulu painting
disebut sebagai satu hal yang mampu menciptakan “depiction of
reality”, tetapi kemudian hadirlah fotography, dan yang satu ini
benar-benar mampu menciptakan realitas yang sesungguhnya, tidak hanya
form, tidak hanya color, tidak hanya gesture, tapi sebuah keseluruhan,
keseluruhan yang sangat menyeluruh.
Tetapi, bisa jadi juga momen yang tercipta bukanlah momen yang
menyeluruh, bukan sebuah momen yang benar-benar real, benar-benar
nyata, karena kamera dan lensa(atau mungkin kedua-duanya, atau salah
satu dari dua hal tersebut, atau mungkin dalam konteks ini lensa
adalah kesatuan dengan kamera, atau mungkin lensa itu sendiri inti
dari kamera, aku gak tahu) adalah mata yang memungkinkan momen
tercipta. Bagaimana dengan sisi lain yang tidak mendapat perhatian
dari mata itu pada saat mata itu menciptakan sebuah momen? Bukankah
ini menjadikan mata tersebut hanya menciptakan sebuah sisi dari sebuah
momen, bukan semua aspek dan semua sisi dari momen tersebut? Ahh,
walaupun mungkin tidak komplit dan menyeluruh, yang penting ada momen
yang bisa dilihat oleh semua orang. Ada momen yang bisa dinikmati oleh
orang-orang di seantero jagad.
Kalau ada orang yang bertanya kepadaku apakah aku pernah mengambil
sebuah momen dengan mata ini, aku akan bilang, pernah, tapi hanya
sekali atau dua kali, tapi biarlah, yang penting aku mendapat
“feel”nya, walaupun hanya 0.234% dari keseluruhan feel yang 100% itu.
Di perpustakaan departemen pendidikan, yang letaknya di samping ratu
plaza bundaran senayan, aku melihat ada satu buku yang memberikan
introduction ke bidang photography(letaknya ada dibagian reference
kalau mungkin ada yang berminat). Disitu terdapat banyak sekali
koleksi-koleksi foto. Tetapi aku menemukan beberapa topik yang bisa
dibilang mungkin dengan sebutan “mainstream”, yaitu pembahasan tentang
wanita, yaitu “naked woman”, “woman in bed”, “woman in front of
mirror”, “woman in bath”, “dan perempuan yang lagi menyisir
rambutnya”, atau juga “perempuan yang memandikan anaknya”, dan
tentunya “classical beauties” atau paling tidak personifikasi dari
classical beauties tersebut, seperti kata Peter Watson, “Benzina”,
“Faustine”, “Celestine”, dllllll
Karena karya fotografi menciptakan momen, maka, karya tersebut bisa
menjadi objek studi, sebagaimana halnya yang terjadi di bidang-bidang
yang lain, seperti cinematography, painting, drawing, stamps, dan
lain-lain.
* Remember, ini hanya opini pribadi tanpa dasar pengetahuan mengenai
seni fotografi secara khusus.