Bilamana Saya Adalah Seorang Atheist II
Dan satu hal lagi, aku sendiri berasal dari bangsa Jawa. Dan begini
yang aku tahu mengenai bangsaku.
Bangsaku pada dasarnya adalah pemuja alam, terutama pepohonan dan
tanah(yang menjaga kesuburan). Kemudian, pemujaan inipun tidak
terkonsentrasi ke “pemujaan” secara khusus(kecuali sanctuary-sanctuary
tradisional Jawa yang berkenaan dengan pemujaan alam), karena
bagaimanapun juga, kebanyakan dari mereka tidak peduli dengan
kedewataan secara khusus. Sepanjang tanah mereka tetap menghasilkan,
maka itu sudah lebih dari cukup untuk hidup.
Kemudian datanglah agama Shiva dan Vishnu. Dan kemudian datang juga agama Budha.
Dua agama ini memang merubah pandangan bangsaku secara general.
Tetapi, hal ini kurang lebihnya terbatas di lingkungan kerajaan dan
perkotaan. Sedangkan masyarakat pedesaan tetap dengan diri asli
mereka(tentunya hanya tidak semua begini).
Datang juga Islam dan Kristen, dan kemudian, secara general, bangsaku
beralih ke agama baru ini, walaupun masih ada yang mempertahankan
agama Shiva, seperti masyarakat Tengger misalnya(karena satu dan lain
hal, dan inipun bisa dibahas lebih panjang).
Nah, oleh karena itu, kenapa aku musti peduli terhadap agama Islam dan
Kristen? Toh mereka by-product kebudayaan Yahudi dan Arabia. Karena
aku sadar, sebagaimana bangsaku dulu hanya perlu kesuburan tanah,
akupun hanya perlu daganganku laku. Hanya itu. Aku tidak perlu
bergulat dengan konsep afterlife. Karena bagaimanapun juga, konsep itu
eksis dalam agama-agama tertentu dan bukan semua agama. Dan tentunya
agama itu sangatlah banyak dan beragam, kenapa kita bisa memandang
bahwa salah satunya mesti benar?
1. Tao adalah by-product kebudayaan Tiongkok,
2. Islam adalah by-product kebudayaan Arabia,
3. Kristen adalah by-product kebudayaan Yahudi,
4. reduksi : Agama adalah by-product kebudayaan tertentu
Oleh karena itu, mereka merefleksikan kehidupan dan pemikiran
kebudayaan-kebudayaan tersebut.
Satu hal yang aku sangat sukai dari Shiva maupun Budha, yaitu bahwa,
mereka berdua memandang bahwa kebenaran dan kebijaksanaan bisa
tercapai dalam segala hal, segala pandangan, dan segala bentuk
pengetahuan(tapi bisa jadi juga aku salah, karena pengetahuanku soal
Shiva maupun Budha sangatlah sedikit bahkan bisa dikatakan buta).
Nah kalau aku ditanya apakah agamaku maka aku akan menjawab:
1. aku adalah seorang atheis
2. walaupun aku atheis tapi aku menghormati alam sebagaimana leluhurku
3. walaupun aku menghormati alam per se sebagaimana leluhurku, tetapi
aku juga menghormati dan berkeinginan mempelajari agama-agama didunia
ini, karena agama-agama tersebut adalah by-product kebudayaan manusia,
dan dengan begitu, mempelajari agama-agama tersebut adalah salah satu
metode untuk mempelajari kebudayaan-kebudayaan tersebut. Agama dengan
kata lain adalah sebuah fosil kebudayaan manusia. Tetapi fosil ini
adalah yang berujud fosil per se, seperti agama Yunani kuno, ada juga
yang berkembang, seperti Kristen dan Islam dan Budha dan Shiva.
Kenapa aku menyebut agama Shiva secara khusus dan bukan agama Hindu?
Karena di tanah jawa terdapat pertentangan yang halus antara pengikut
Shiva dan Vishnu. Vishnu sangatlah populer dikalangan kerajaan Kediri
dan Jenggala. Tetapi, Shiva adalah yang dipuja secara khusus oleh
pendeta pada masa itu.